oleh

Kontemplasi Mengenai Dua Kubu Ramalan: Antara Agama Menuju Kehancuran dan Hegel Menuju Kesempurnaan

-Esai-15 views

Primnas–

Dua Kubu Ramalan

Dunia telah berkembang cepat dan tak terasa. Sampai-sampai tidak bisa kita sadari bahwa dia adalah hasil akumulasi sejarah yang begitu panjang. Untung saja kadangkala kepala kita masih tergoyahkan oleh asap roda yang berkeliaran, dan dengan tak sengaja berpikir, jangan-jangan kemajuan ini adalah kontruksi budaya semu, jangan-jangan kemajuan yang kita agung-agungkan ini adalah tak lain merupakan kemunduruan, atau bahkan yang lebih parahnya kemajuan ini adalah bentuk kehancuran tak disadari. Jika kita memulainya dengan jangan-jangan, maka kita akan berbicara mengenai kemungkinan yang begitu abstrak. Tapi lebih baik kita bicarakan, walaupun kemungkinan itu hanya satu persen. Kendati kecil, selalu akan ada peluang bagi kemungkinan-kemungkinan itu yang tak bisa kita abaikan.

Sejalan dengan sejarah perkembangan manusia dan segala bentuk kemajuannya, kita tidak bisa mengelak bahwa kepercayaan terkait agama juga turut andil dan langgeng serta masih eksis sampai saat ini. Tidak sedikit, banyak yang berkeyakinan agama adalah salah satu jawaban tunggal dari segala yang universal. Kendati itu masih menjadi perdebatan panjang sampai saat ini, namun faktanya agama masih begitu laris untuk pegangan setiap manusia.

Umumnya agama, dia selalu mempunyai ramalan yang tak mungkin bisa disangkal. Hal yang paling konkret dalam kepercayaan salah satu agama ialah mengenai dunia dan kehancuranya. Namun apakah itu bisa terbuktikan dengan arus sejarah yang begitu panjang? Lagi-lagi kita akan terjebak dalam sebuah labirin ide yang menembus materinya.

Berbicara mengenai ide, mengingatkan saya kepada sosok yang mungkin anda kenal. Hegel 1770-1831, seorang filsuf dari Jerman yang pengaruhnya tidak bisa diragukan pada masanya. Orang ini merupakan pemikir yang luar biasa. Dia mengonsepsikan dunia lewat cakrawala ide yang begitu luas, sampai dia menganggap bahwa dunia ini merupakan hasil dialektika ruh absolut menuju kesadarannya sendiri.

Bagi Hegel, seluruh alam semesta ini merupakan manipestasi roh absolut yang hendak mengenali dirinya. Roh abslut memecah diri menjadi berbagai macam partikular. Dari pecahan itulah menimbulkan ketegangan dialektis sampai menuju kesadaran roh absolut. Tahapan menuju roh absolut inilah merupakan dialektika menuju kesadaran yang hakiki, dalam hal ini adalah menuju kesempurnaan yang diharapkan.

Dari dua konsepsi mengenai ramalan ini masing-masing memiliki keyakinan yang begitu unik. Dimana satu sisi mempercayai bahwa dunia sejalannya akan menuju kehancuran, sisi lain melihatnya akan menuju kebaikan karena roh absolut akan selalu berdialektika. Tapi apakah ramalan dari keduanya bisa kita pegang? Maka satu satunya hal yang paling menarik untuk melihat itu adalah melihat juga perkembangan saat ini. Supaya penglihatan kita tidak begitu luas, elok rasanya kalau kita melihat fenomena yang ada di Indonesia saja.

Ramalan Agama dan Fenomena di Dalamnya

Indonesia merupakan salah satu tempat dengan berbagai macam aliran keprcayan (agama). Mayoritas pemeluk terbanyak ada di salah satu agama tertentu. Konon katanya, salah satu agama ini memiliki sebuah ramalan bahwa dunia akan menuju kehancuran. Namun sayang setiap ajarannya, seolah-olah kita diharuskan melanggengkan dunia agar menjadi lebih baik. Selayaknya sebuah paham, dia selalu memiliki nilai-nilai moral di dalamnya. Jika setiap ajarannya bisa kita ikuti, maka tidak ada yang tidak mungkin dunia seharusnya sudah menjadi surga dalam artian tertentu.

Ajaran selalu menyimpan misteri pada prakteknya, dia bisa saja hanya terendap dalam kepala terucap lewat mulut, dan tidak jarang yang liar adalah ajaran yang tak tersangka. Ajaran yang tak tersangka inilah barangkali adalah gerakan tambahan dari yang tak terlihat untuk mewujudkan sebuah takdirnya. Karena konsekuensi logisnya adalah, jika agama memberikan ajaran baik, maka hasilnya akan baik. Namun ternyata tidak semudah itu, ajaran tidak begitu bisa mempengaruhi sepenuhnya. Jika memang agama bisa memberikan kepastian dari hasil ajaranya, maka Indonesia dengan berbagai macam agamanya sudah menjadi negara yang sempurna.

Berbicara terkait negara yang sempurna tentu saja kita akan inget dengan negara tercinta kita yaitu Indonesia. Dimana kesempurnaan merupakan hal yang paling diharapkan di negara kita ini. Bagaimana tidak, permasalahan di Indonesia pun amat sangat beragam seperti halnya agama. Tentu tak perlu lagi rasanya kita sebutkan satu-persatu, semua telah telanjang dimata dan telinga. Tentang korupsi dan lain-lain rasanya sudah begitu using untuk dibahas dalam tulisan ini. Namun ada hal yang menarik perlu saya cantumkan, yaitu terkait pelecehan yang terjadi di lokus ajaran tertentu.

Terkait isu pelecehan sudah berdengung kencang ketelinga kita, dan kerapkali terjadi di ruang yang seharusnya tidak mungkin seperti itu. Adalah tidak mungkin misalnya pesantren yang terikan erat dengan ajaran moral dan sepiritual, di dalamnya terjadi kasus pelecehan. Jika memang itu terjadi, sangat begitu konyol dan sulit dipercaya. Tapi fakta seringkali memberikan keadaan yang konkret katanya. Semoga itu hanya sekedar halusinasi. Tapi walaupun memang benar, maka itu adalah hasil ramalan kehancuran yang sudah ditakdirkan.

Jika memang segala bentuk permasalahan yang ada saat ini adalah hukum sejarah menuju kehancuran. Maka bukankan sangat berdosa jika kita menganggap itu bukan ciptaan dari sang maha menggerakan. Oleh karena itu, jika memang itu adalah suratan dari yang tak terlihat, maka kita akan menemukan jawaban tunggal yang pasti dari ramalan tersebut. Dari sinilah ramalan seharusnya bisa kita validasi, guna memperteguh keyakinan yang kita anut dari sejak kita sudah mulai berpikir.

Tentunya dari berbagai rupa-rupa masalahnya yang ada saat ini, hingga akhirnya meletus dalam kehancuran. Itu merupakan keniscayaan yang tak bisa dihindari, dan seberapapun usaha kita untuk memperbaikinya itu tidak lain merupakan perlawanan dari takdir absolut itu sendiri.

Dari fenomena permasalahan inilah sedikit menunjukan bahwa dunia akan menuju sebuah kehancuran. kendati kehancuran itu belum terjadi, tapi setidaknya bisa memberikan kita keyakinan bahwa dunia semakin menuju ke arah sana. Hal ini juga yang pada akhirnya mematahkan ramalan Hegel, yang mengira gerak sejarah akan menuju pada kesempurnaan.

Menijau Ulang Ramalan Hegel

Berbicara perihal ramalan Hegel, kurang rasanya jika tidak sedikit menjelaskan terkait kosepsi ramalanya. Ramalan Hegel kurang lebih hampir sama dengan ramalan sebelah, namun titik penghujungnya saja yang kemudian berbeda. Jika ramalan sebelah adalah menuju kehancuran, maka Hegel sebaliknya (kesempurnaan). Tapi seperti apa ramalan hegel tersebut? Maka perlu kita colek sedikit inti sari ramalanya.

Hegel dengan postulat roh absolut tunggalnya menjelaskan bahwa semua ini adalah manifestasi dari roh absolut dalam pengertian yang sangat abstrak. Bahwa menurut keyakinan dia, roh absolut ini awal dari segala sesuatu. Namun dia (roh absolut) sulit untuk mengenali dirinya sendiri karena tidak ada bandingan. Sebab dari kesulitan dan tak ada bandingan inilah kemudian dia merubah nya menjadi berbagai macam partikular yang kita ketahui sekarang, seperti tumbuhan, hewan, manusia dan banyak hal.

Menurutnya pembagian ini merupakan suatu proses menuju ke kesadaran roh absolut sendiri. Dalam artian segala bentuk ketegangan yang terjadi antara makhluk hidup merupakan proses yang niscaya terjadi menuju kesadaran yang hakiki. Dalam perkembangannya dia percaya bahwa sejarah adalah pertentangan ide. Bahwa setiap entitas katakanlah manusia dalam hal ini, ingin mencapai yang diharapkan baik secara individu ataupun kelompok. Namun seringkali perbedaan kosepsi ide satu sama lain menimbulkan ketegangan dan kontradiksi. Kontradiksi inilah menurutnya merupakan dialektika sejarah menuju pada kesempurnaan.

Salah satu ungkapannya yang paling terkenal adalah mengenai negara. Negara baginya merupakan manipestasi sempurna hasil dialektika, dan oleh sebab itu harus ditaati. Kenapa demikian, karena negara merupakan media penengah dari berbagai macam kepentingan manusia yang tak terselesaikan. Ramalan dia mengungkapkan bahwa sejarah telah berhenti, karena dia sendiri seakan akan sudah mengetahui polanya. Dan sejarah akan mengikuti arus yang dia yakini, yaitu menuju kesempurnaan atau kesadaran diri roh absolut melalui dialetika. Dari kesadaran ini juga akhirnya segalanya termasuk manusia terlepas dari masalah yang membelenggu.

Seperti itu kurang lebih gambaran ramalan dukun Hegel yang terkemuka. Namun seribu sayang bahwa sejarah tidak pernah berhenti sedekat itu. Sampai saat ini sejarah selalu masih bergerak jauh diatas tatanan ide yang begitu sempit. Namun jika memang apa yang diramalkan hegel merupakan keniscayaan. Maka perlu rasanya kita meninjau kembali dialektika roh absolut hingga sampai dewasa ini.

Jika dia meramal bahwa gerak sejarah selalu berdialektika menuju pada kesempurnaan. Maka konsekuensi logisnya semakin lama sejarah ini berjalan semakin dekat kepada kesempurnaan tersebut. Namun tentunya hal ini sulit untuk bisa kita terima. Pasalnya Indonesia sampai detik ini justru tidak terlihat demikian. Dalam hal ini tentunya Indonesia sebagai sebuah negara yang diyakini hegel sebagai penengah semua kepentingan dan merupakan wujud sempurna dari dialektika, justru tidak seperti yang diharapkan. Indonesia sampai sekarang ini seakan akan diambang sebuah kehancuran, bagaimana tidak, permasalahan Indonesia sudah tidak bisa tertampung lagi oleh wadah apapun, dan saya rasa kita sepakat akan hal itu.

Lalu apakah dialektika itu sudah berhenti, dalam artian ramalan hegel sudah lama hangus karena tidak mampu menunjukan hasil akhir ramalanya? Saya rasa jawabanya barangkali iya, tapi bisa saja sebetulnya apa yang kita anggap sebagai masalah sampai akhir ini merupakan proses menuju kesempurnaan yang lebih terbarukan. Artinya bahwa dialektika bisa saja masih berjalan sejauh dunia belum bisa dibuktikan hancur sepenuhnya. Atau yang paling lucu bahwa roh absolut keliru dalam memahami dirinya sendiri sejauh ini. oleh karena itu menuju kesempurnaan yang diharapkan masih berjalan begitu panjang.

Namun jika kalian merasa bahwa sejauh ini dunia tidak pernah menuju pada hasil yang sempurna seperti yang diramalkan Hegel. Bukan berarti ramalan sebelah mengenai kehancuran bisa kita akui sebagai pemenang dalam lomba ramalan ini. Tentunya, satu-satunya penilai ramalan dari dua kubu tersebut adalah akhir hayat umur sejarah yang tak pasti kapan berakhir. Jika sedari awal kita memulai dengan jangan-jangan, maka jangan-jangan juga konsepsi ramalan mereka berdua semuanya tidak benar.

Kesmimpulan Semu

Seperti halnya konsepsi ide yang menembus materinya, ramalan terkait gerak dunia ini selalu menyimpan misteri yang seru untuk dipertanyakan. Jika kubu satu beranggapan bahwa dunia akan menuju pada kehancuran, dan tentunya gejala-gejala yang terjadi saat ini sedikit mendukung pada konsepsi tersebut. Maka kita akan menuju pada sesuatu yang hanya mungkin. Tetapi jika ramalan kubu sebelah lagi beranggapan bahwa dunia akan menuju kesempurnaan. Rasanya dengan keadaan saat ini sangat tidak begitu masuk akal. Kendati demikian, selagi sejarah belum selesai maka kita akan berakhir kepada mungkin lagi.

Hal yang sangat pasti saat ini adalah bahwa dunia belum berakhir, dan ramalan yang begitu panjang perlu jawaban yang pasti. Untuk memastikan ramalan ini, maka tentunya hal yang perlu dipastikan terlebih dahulu adalah anda hidup lebih lama. Jika anda hidup lebih lama, maka senantiasa kita akan menyaksikan ramalan yang begitu panjang. Memang sejatinya jika ide mendahului materinya selalu ada kemungkinan yang harus kita pastikan. Sebab jika tidak bisa dipastikan maka kita selalu akan terjebak dalam jangan-jangan.

 

###