Primnas- Di Tepi Sawah
oleh M. Alek Sander
Kutemui siang yang tak banyak bicara
Ia hanya menghamparkan hijau sampai batas cakrawala
Padi melambai seperti nyanyian sunyi
Menunduk pelan saat angin lewat membawa doa
Di tengahnya, seorang petani
Punggungnya peta kerja, topinya peneduh mentari
Tangannya bicara dengan lumpur
Kakinya mengakar bersama akar yang ia rawat
Betapa indah pemandangan ini
Bukan karena megah, tapi karena jujur
Alam menguning pelan, manusia menghitam pelan
Keduanya sepakat memberi tanpa menghitung
Aku berdiri di tepi sawah
Malu pada lelah yang sering kuadukan
Sebab di sini, lelah tak pernah berhenti
Ia hanya berganti nama menjadi rezeki.
____________________________________________________________________
Surat Untuk kekasih ku Dinda
Oleh Muhamad Syis
Dan bila suatu saat nanti aku katakan cinta padamu, lantas bagaimana dengan bapakmu? Aku tidak yakin apa bila dan juga bagaimana dia berkata mengenai diriku Dinda.
Aku sudah berandai sedari dua detik pertama aku memandangmu di sebrang jalan tapi aku butuh satu tahun lamanya bisa untuk berani mengungkapkan ini.
Bagaimana, jika saat ketika aku berbicara “ Aku cinta kamu, Dinda “
Apakah kamu akan duduk diam atau menghindar jauh ribuan kilometer untuk hanya ingin membalas perasaanku
Dinda, aku tidak tahu lagi bagaimana cara nya aku bilang jika aku mencintaimu. Aku tidak tau, lalu bagaimana caranya?
Setahun aku menahan rasa, ribuan detik aku menahan tangis di bawah lindungan dinding surau yang sajadahnya saja sudah bosan mendengar doa-doa dan omonganku yang sudah mereka tahu aku akan membicarakan kamu
Dinda
Din
Dinda ajari aku, ajari aku bagaimana caranya untukku mengungkapkan agar kamu tidak pergi jauh setelah aku berbicara perkara mencintai
Beri tahu aku…..!!!






