Primnas.com- Di wilayah selatan Kabupaten Pandeglang, seperti Cibaliung, Cibitung, hingga Cimanggu, terdapat realitas ekonomi harian yang berjalan senyap, namun menjadi penopang utama kehidupan masyarakat. Di balik aktivitas pasar tradisional, ibu-ibu dan para simbah memegang peran penting dalam rantai distribusi kebutuhan pokok, mulai dari pedagang sayur hingga penghubung antara pasar subuh dan rumah-rumah warga di pedesaan.
Rutinitas mereka dimulai sejak malam hari atau dini hari. Sebagian berangkat ke pasar sekitar pukul 23.00, sementara yang lain mulai bergerak sejak subuh untuk menyiapkan dagangan. Setelah itu, mereka kembali berkeliling dari kampung ke kampung, bahkan melintasi kecamatan hingga wilayah Cimanggu. Aktivitas tersebut kerap berlangsung hingga sore hari dengan kondisi fisik yang lelah. Namun, semua itu tetap dijalani demi menopang kebutuhan ekonomi keluarga.
Tidak hanya perempuan usia produktif, para simbah atau lanjut usia pun masih terlihat terlibat dalam aktivitas ekonomi informal. Mereka memikul bakul sayuran dan menjajakan dagangan secara berkeliling kampung. Kondisi ini menunjukkan bahwa sektor ekonomi pedesaan tidak hanya bertumpu pada tenaga kerja muda, tetapi juga melibatkan kelompok rentan yang sebenarnya telah melewati usia produktif. Dalam konteks ini, kerja informal tidak lagi sekadar pilihan, melainkan strategi bertahan hidup.
Namun demikian, ketangguhan tersebut berhadapan dengan persoalan struktural yang lebih luas, terutama kesenjangan infrastruktur dan kesejahteraan. Kondisi jalan penghubung antarwilayah, seperti jalur Cibaliung–Cibitung hingga Cimanggu yang masih rusak, turut memperberat beban ekonomi masyarakat. Mobilitas menjadi lebih mahal, waktu tempuh lebih panjang, dan risiko kerja meningkat. Di tengah kondisi tersebut, para pelaku ekonomi kecil tetap harus menjalankan aktivitas dengan pendapatan yang relatif terbatas.
Kondisi ini juga tidak bisa dilepaskan dari pengalaman kelas bawah secara lebih luas, termasuk buruh cuci, seperti yang dialami ibu saya sendiri sejak ayah meninggal pada akhir 2002 hingga saya lulus Madrasah Aliyah pada 2021. Realitasnya tetap sama: kerja informal masih menjadi penopang utama kehidupan, bukan pekerjaan dengan kepastian ekonomi.
Di tengah kondisi itu, muncul pertanyaan tentang kehadiran negara. Program seperti MBG, KOPDES, hingga berbagai skema pengadaan dan bantuan sosial sering disebut sebagai upaya memperkuat ekonomi rakyat. Namun, di tingkat lapangan masih terdapat jarak antara program dan realitas. Bantuan sosial dan BLT pun tidak lepas dari polemik, terutama terkait ketepatan sasaran dan efektivitasnya dalam mengurangi kemiskinan yang tercatat dalam data BPS Pandeglang.
Pada saat yang sama, masyarakat juga melihat dinamika politik lokal di Banten dan Pandeglang yang cenderung berulang. Sejumlah nama dari lingkar kekuasaan yang sama kerap muncul dalam periode berbeda, seperti Dimyati Natakusumah yang pernah menjabat dua periode sebagai Bupati Pandeglang, kemudian Irna Narulita yang juga menjabat selama dua periode. Setelah itu, muncul kembali figur dari lingkar keluarga yang sama, termasuk Raden Dewi Setiani yang berada dalam jejaring politik daerah, serta keterlibatan kembali nama seperti Achmad Dimyati Natakusumah di tingkat provinsi sebagai Wakil Gubernur Banten mendampingi Andra Soni.
Dari situ muncul persepsi di sebagian masyarakat bahwa perubahan politik belum tentu sejalan dengan perubahan ekonomi di tingkat bawah. Struktur kekuasaan bisa berganti posisi, tetapi kondisi rakyat kecil tetap berjalan di tempat yang sama.
Karena pada akhirnya, yang paling nyata di Cibaliung, Cibitung, hingga Cimanggu bukanlah wacana politik atau program besar, melainkan kehidupan sehari-hari: ibu-ibu yang tetap berangkat ke pasar sejak malam, simbah yang tetap memikul dagangan, serta buruh cuci yang tetap bekerja dari pagi hingga sore dalam sistem yang belum sepenuhnya menghadirkan keadilan infrastruktur dan kesejahteraan.
Lebih jauh, realitas tersebut juga bersinggungan dengan isu kesetaraan gender yang masih belum sepenuhnya terjawab di tingkat pedesaan. Perempuan bukan hanya berperan sebagai pencari nafkah tambahan, tetapi justru menjadi tulang punggung utama ekonomi rumah tangga. Namun, beban ganda masih melekat. Setelah bekerja di ruang publik, seperti pasar, mereka kembali memikul tanggung jawab domestik di rumah. Dalam kondisi ini, kesetaraan gender tidak hanya menjadi wacana, tetapi persoalan nyata yang terlihat dari beban kerja yang tidak seimbang.
Di sisi lain, perubahan iklim juga mulai terasa dampaknya terhadap aktivitas ekonomi harian masyarakat. Ketika hujan turun deras dan berkepanjangan, aktivitas pasar terganggu, akses jalan semakin sulit dilalui, dan hasil pertanian yang menjadi komoditas utama ikut terpengaruh. Kondisi ini memperlihatkan bahwa kelompok ekonomi bawah justru menjadi pihak paling rentan terhadap dampak perubahan iklim, meskipun kontribusi mereka terhadap krisis lingkungan sangat kecil.
Masalah lain yang juga mengemuka adalah kerentanan ekonomi keluarga. Ketergantungan pada kerja informal tanpa jaminan pendapatan tetap membuat banyak keluarga hidup dalam ketidakpastian. Ketika sakit, harga barang naik, atau hasil dagangan menurun, tidak ada sistem perlindungan yang benar-benar kuat di tingkat akar rumput. Hal ini memperlihatkan bahwa struktur ekonomi rumah tangga masih sangat rapuh.
Di luar itu, muncul pula persoalan terkait kegagalan sistem dalam menyediakan lapangan pekerjaan yang memadai bagi masyarakat usia produktif. Banyak warga akhirnya kembali pada sektor informal karena terbatasnya akses terhadap pekerjaan formal di daerah. Situasi ini menunjukkan bahwa pembangunan ekonomi belum sepenuhnya mampu menyerap tenaga kerja lokal secara berkelanjutan.
Selain itu, terdapat persoalan lain yang tidak kalah penting, yakni rendahnya akses terhadap pelatihan dan kursus profesi yang dapat meningkatkan keterampilan masyarakat. Minimnya literasi keterampilan kerja membuat banyak warga tidak memiliki alternatif selain bertahan di sektor informal. Padahal, penguatan kapasitas melalui pendidikan vokasi dan pelatihan keterampilan dapat menjadi salah satu jalan untuk keluar dari siklus kerja rentan yang terus berulang.
####
Ditulis oleh: Muhamad Syis.







