Kita sering kali menyaksikan sebuah tarian erotis di atas panggung demokrasi. Para mantan koruptor sering kali lalu-lalang kembali, melenggang dengan gestur tanpa dosa, menebar senyuman dusta di atas baliho-baliho raksasa. Mereka tampil bak malaikat turun dari langit tertinggi dengan menggunakan jubah putih yang menyilaukan mata, padahal di belakangnya begitu buruk rupa. Bibir yang fasih mengucapkan doa lalu merentangkan tangan seolah siap merangkul penderitaan rakyat, bahkan sayap mereka telah patah dan jejak kakinya pun masih basah oleh lumpur pengkhianatan.
Namun di sisi lain, ada kita—“kerumunan rakyat”—yang seolah kehilangan ingatan dan harga diri. Kita datang dengan langkah mantap menuju bilik suara, membawa harapan kosong yang sudah berkali-kali dikhianati. Kita berbaris rapi, bahkan bukan sebagai warga yang cerdas, melainkan sebagai barisan pemandu sorak menuju kehancuran sendiri—sungguh sebuah ironi.
Di sana, kita bersiap menusukkan paku dengan penuh keyakinan demi memilih kembali orang yang sama, sosok yang jelas-jelas sudah pernah merampok masa depan kita, menjarah hak-hak paling mendasar, dan tetap bisa tertawa lebar seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Kita menyambut mereka kembali bukan dengan tuntutan, melainkan dengan pembenaran yang berlapis-lapis. Kita menganggap skandal mereka hanyalah kerikil kecil yang bisa disapu bersih cukup dengan klarifikasi di depan layar kaca.
Bilik suara bukan lagi ruangan suci. Kita sebut saja tempat itu sebagai mesin pencuci dosa massal. Tempat di mana seorang penjahat kerah putih memoles kembali citranya menjadi pahlawan kesiangan bagi rakyat. Kita sadar sedang ditipu, namun ironisnya kita memilih untuk tetap menutup mata demi seonggok nilai yang tidak seberapa. Seolah-olah pengkhianatan yang berulang adalah tradisi yang harus dijaga kelestariannya.
Di balik jubah putih malaikat palsu dan sikap abai kita yang senantiasa dipelihara, tersembunyi sebuah mesin penghancur masa depan yang ditenagai oleh tiga pilar kebejatan sistematis. Kita bukan hanya sekadar korban, tetapi juga kolaborator yang setia dalam narasi kehancuran ini.
Pertama: Romantisme Perbudakan Sukarela
Marc Bloch (1961:145) menjelaskan fenomena ini dalam Feudal Society, bahwa “tunduk pada seorang tuan adalah hal yang lumrah bagi manusia pada masa itu; itu adalah satu-satunya cara untuk merasa aman”.
Kita adalah bangsa yang secara mental belum benar-benar siap menjadi warga yang bebas dan berdaulat. Sebaliknya, kita justru merasa lebih aman dan nyaman menjadi bawahan, lalu menghamba kepada figur-figur dominan yang berlagak seperti raja kecil.
Dalam logika feodal yang kita pelihara ini, korupsi sang pemimpin tidak lagi dipandang sebagai tindakan kriminal yang menjijikkan—sebut saja pencurian terang-terangan di hadapan mata publik. Kita membiarkan mereka menari angkuh di atas kepala kita, menginjak harga diri kita dengan sepatu mahal mereka, asalkan mereka terlihat gagah dan berwibawa dalam balutan seragam kekuasaan.
Ini adalah bentuk pengkhianatan diri yang paling menyedihkan: secara sukarela menyerahkan leher kita untuk dipasangi kalung perbudakan. Bahkan kita merasa bangga ketika kalung itu terlihat berkilau, berlapiskan emas hasil jarahan dari piring makan kita sendiri.
Selama mentalitas kawula ini tetap tegak, kemerdekaan hanyalah slogan kosong di tengah pesta pora para penjajah berwajah pribumi.
Kedua: Prostitusi Etika di Ranjang Kemiskinan
Hubungan yang terjalin antara kita dengan para koruptor adalah potret nyata dari apa yang dikuliti oleh James C. Scott sebagai relasi patron–klien. Ini adalah bentuk transaksi paling rendah dan hina di muka bumi, ketika moralitas dikorbankan demi kelangsungan hidup sesaat.
Sang koruptor datang memposisikan dirinya sebagai “patron”, seorang pahlawan kesiangan yang membawa perangsang berupa bantuan sosial instan, tumpukan sembako murahan, dan amplop tipis berisi beberapa lembar uang biru. Sementara itu, kita—rakyat yang sengaja dibuat tetap lapar oleh sistem—terpaksa menjadi “klien” yang menukarkan harga diri serta masa depan.
Kita sedang melakukan pelacuran harga diri secara massal, menjual kedaulatan di ranjang kemiskinan yang mereka bangun sendiri. Yang paling menyakitkan adalah absurditas dari rasa syukur kita: merasa sangat berutang budi, bahkan sampai menaruh rasa hormat mendalam kepada sang pencuri.
Di bawah relasi patron–klien ini, integritas berubah menjadi barang mewah yang tidak mampu kita beli. Kejujuran pun hanyalah dongeng sebelum tidur bagi mereka yang sudah terlalu lelah mengunyah janji-janji palsu.
Ketiga: Estetika Iblis dalam Kilauan Kuasa
Sebagaimana Benedict Anderson mengatakan dalam buku Kuasa-Kata, kita adalah bangsa pemuja “kesaktian” kekuasaan yang buta terhadap kompas moral. Dalam pandangan kolektif kita, kekuasaan bukan dipahami sebagai amanah hukum yang fungsional, melainkan sebagai semacam cahaya gaib.
Siapa pun yang memegangnya—tak peduli seberapa busuk hatinya atau seberapa banyak noda darah di tangannya—akan dianggap sebagai sosok sakti, kuat, dan diberkati oleh nasib.
Koruptor di negeri ini tidak memiliki sedikit pun rasa malu, karena mereka memahami betul psikologi kita: bahwa kita adalah penonton yang lebih mudah terpesona oleh baliho mewah. Aura kekuasaan ini bekerja seperti obat bius tingkat tinggi, menciptakan distorsi realitas yang membuat kita tetap terpaku dalam kekaguman.
Bahkan yang lebih parah, kita tetap memuja mereka ketika sang malaikat palsu itu menyulut api untuk membakar rumah kita sendiri.
Bagi kita, selama sang penguasa masih memiliki pancaran kekayaan dan pengaruh, maka segala dosa moralnya dianggap sebagai efek samping yang bisa dimaklumi. Kita memuja simbol-simbol kuasa seolah-olah itu adalah jaminan keselamatan.
Padahal setiap kilauan dari perhiasan dan fasilitas mewah yang mereka pamerkan hanyalah pantulan dari api neraka yang sedang mereka siapkan untuk menjerat kita semua dalam kemiskinan yang abadi.
Di bawah sihir estetika iblis ini, kita kehilangan kemampuan untuk membedakan antara sosok pemimpin dan sosok pemangsa.
Ketiga teori ini adalah cermin retak yang menunjukkan wajah asli kita: kita adalah alasan mengapa korupsi tetap laku keras dan terlihat memikat di negeri ini.
Kita memuja jabatan yang angkuh, kita membutuhkan uang receh pemberian mereka, dan kita mabuk oleh kemewahan kekuasaan mereka yang sebenarnya adalah hasil jarahan.
Jangan pernah mengeluh soal nasib jika tanganmu sendiri yang memilih untuk tetap mendekam dalam kegelapan demi selembar uang biru yang habis dalam sekejap.
Selama kita masih menjadi pencinta yang amnesia dan haus akan janji palsu, maka surga yang dijanjikan para malaikat palsu itu tak lebih dari pintu neraka yang kita masuki dengan sukarela—sambil tetap bertepuk tangan meriah di tengah rumah yang mereka bakar sendiri.
Ditulis oleh: Siti Latofah.
Daftar Pustaka
Anderson, B. R. O. G. (2000). Kuasa-Kata: Jelajah Budaya-Budaya Politik di Indonesia. Yogyakarta: Fajar Pustaka Baru.
Bloch, M. (1961). Feudal Society. Chicago: University of Chicago Press.
Scott, J. C. (1972). Patron-Client Politics and Political Change in Southeast Asia. American Political Science Review.



