Dalam hierarki kehidupan yang absurd ini, ada satu spesies yang kedudukannya sering kali dianggap lebih tinggi dari malaikat, tetapi kelakuannya lebih primitif daripada manusia purba. Spesies ini adalah “senior”, sebuah spesimen unik dari genus makhluk tidak bertulang belakang yang jika kita bedah kapasitas logikanya, barangkali lebih kecil daripada Neanderthal.
Ini bukan sekadar sinisme, melainkan ironi mendalam atas fenomena sosial di mana banyak individu terpelajar justru memilih tunduk di bawah kaki otoritas kosong. Membaca literatur evolusi seperti Sapiens karya Yuval Noah Harari menyadarkan kita bahwa kekuatan manusia terletak pada kemampuan menciptakan mitos bersama untuk bekerja sama.
Namun, senioritas di lingkungan kita dewasa ini telah melenceng menjadi mitos yang gagal. Sebuah narasi yang bukan lagi soal transfer pengetahuan, melainkan tentang kultus kekuasaan semu. Pada titik ini, sebuah pertanyaan eksistensial muncul: sabda mana yang sebenarnya kita anggap benar?
Apakah doa orang tua yang diam-diam memeluk dalam sujud sunyi, atau bacotan senior yang sedang mabuk kuasa sambil menuding muka?
Tragedi ini menempatkan kita pada kebingungan untuk menentukan siapa yang sebenarnya lebih kehilangan nalar: apakah junior yang cerdas tetapi terpaksa mendungukkan diri demi “keselamatan” sosial, atau senior yang merasa dirinya dewa pembawa wahyu?
Fenomena ini merupakan bentuk kegagalan sistemik yang sengaja dipelihara. Secara psikologis, terdapat kaitan erat antara bias pertahanan diri (self-defense bias) dengan ketidakmampuan berpikir kritis. Ketika seseorang tidak memiliki otoritas dalam logika, mereka cenderung mengompensasikannya dengan menggunakan otoritas posisi.
Mereka membangun panggung sandiwara interpersonal untuk menutupi kekosongan substansi melalui intimidasi. Fantasi liar ini sengaja diciptakan untuk menelanjangi kebebasan berpikir junior dan membungkam mereka dengan retorika yang katanya tajam.
Ada ketakutan kolektif bahwa jika panggung sandiwara ini runtuh, dunia akan menyadari bahwa mereka hanyalah manusia biasa yang sedang mengalami krisis validasi akut.
Jika kita meninjau dari perspektif antropologi evolusioner, senioritas yang menindas ini sebenarnya merupakan bentuk regresi. Jauh sebelum manusia menjadi modern jutaan tahun lalu, nenek moyang kita sudah mengenal sistem komunal yang fungsional demi keberlangsungan hidup. Pemimpin pada masa itu dipilih berdasarkan kompetensi navigasi dan perlindungan kelompok karena sudah merasa saling memiliki, bukan atas dasar nafsu dominasi terhadap sesama anggota.
Ironisnya, perilaku senioritas saat ini justru menunjukkan kemunduran menuju insting otak reptil yang hanya mengenal dominasi hierarki buta dan gertakan.
Penindasan terhadap junior hanyalah bentuk pelampiasan nafsu akibat ketidakmampuan bersaing secara intelektual di ruang-ruang yang lebih sehat. Ini bukan lagi soal pendidikan mental, melainkan pemuasaan ego yang telat tumbuh dalam ekosistem yang sakit.
Dalam ekosistem yang cacat nalar ini, bersuara akhirnya dianggap murtad, melawan dianggap radikal, dan berkarya dianggap keluar dari pakem makna yang mereka tetapkan.
Hal ini jelas mengkhianati histori pendidikan Indonesia. Ki Hadjar Dewantara melalui Taman Siswa secara eksplisit mengajarkan bahwa pendidikan adalah jalan belajar menuju kebenaran, bukan alat untuk membenarkan diri sendiri.
Pendidikan seharusnya transparan terhadap ilmu dan memerdekakan kebebasan berpikir, bukan memberikan tamparan verbal maupun fisik dengan dalih pembentukan karakter.
Patut dipertanyakan: landasan keilmuan mana yang menteorikan bahwa penindasan adalah guru terbaik bagi mental manusia?
Apa yang sering disebut sebagai “prinsip yang keras” tak jarang hanyalah kedok bagi kepala yang keras dan tertutup terhadap dialektika.
Pada akhirnya, kita sedang menghadapi pandemi kebodohan yang terstruktur. Kebenaran dianggap mutlak sebagai milik tunggal pihak yang memiliki “masa bakti” lebih lama, sehingga kognisi junior tumpul karena dipaksa menelan doktrin tanpa daya kritis.
Kita berada dalam kondisi tragis di mana tatapan sinis kakak tingkat lebih ditakuti daripada air mata orang tua, dan sabda yang tidak logis lebih dipatuhi daripada doa yang tulus.
Pendidikan seharusnya memiliki tugas mulia untuk memanusiakan manusia, bukan mendomestikasi junior menjadi peliharaan ego demi menjaga panggung sandiwara senior tetap laku.
Sudah saatnya kita menyadari bahwa kebenaran tidak membutuhkan protokol yang kaku maupun intimidasi, dan senioritas hanyalah deretan angka di atas kertas, bukan mandat untuk menjadi tuhan kecil yang haus akan sujud sembah.
Ditulis oleh: Muhamad Syis.










