oleh

Kemana Perempuan Harus Berlindung di Tengah Maraknya Kejahatan Seksual?

Oleh: Ernawati Janwar Lestari | Anggota Kumaung Cabang Jabodetabek | Mahasiswa Prodi Ilmu keperawatan UIN  Syarif Hidayatullah Jakarta

Perempuan. Kata yang seharusnya melambangkan keindahan, kekuatan, dan kehidupan. Namun, di tengah dunia yang semakin bising oleh nafsu dan kekerasan, kami justru menjadi sasaran empuk dari tatapan lapar, perlakuan cabul, dan kekuasaan yang menyudutkan. Sering kali kami dipaksa menerima ancaman yang tak pernah kami minta, dan lebih menyakitkan lagi—dianggap sebagai pihak yang bersalah hanya karena menjadi diri sendiri.

Menjadi perempuan di zaman ini kerap kali terasa seperti kesalahan. Keberadaan kami dipertanyakan, peran kami diremehkan, dan suara kami dibungkam. Kami dilihat bukan sebagai manusia seutuhnya, melainkan sebagai objek yang bisa diperlakukan sesuka hati. Padahal, perempuan bukan hanya pelahir kehidupan, tapi juga pendidik peradaban. Namun, betapa sering peradaban itu sendiri tak memberi ruang bagi suara perempuan untuk didengar.

Ketika rumah, sekolah, tempat ibadah, kantor, hingga ruang publik tak lagi aman—lalu ke mana kami harus berlindung? Ke mana perempuan bisa merasa tenang, jika setiap tempat menyimpan potensi ancaman? Maraknya kekerasan seksual menjadi potret runtuhnya nilai kemanusiaan, menunjukkan bahwa kami tak lagi punya tempat untuk pulang—secara fisik maupun batin.

Kami muak melihat pelaku kejahatan seksual bebas berkeliaran dengan dalih hukum yang kabur dan perlindungan yang semu. Hukum yang katanya melindungi justru sering membebani korban dengan stigma dan pertanyaan menyakitkan. Tidak ada keadilan sejati bagi perempuan jika sistem hukum masih memandang kami dengan curiga, bukan empati.

Lantas, sampai kapan kami harus bertahan sendirian? Sampai kapan kami harus mengandalkan logika waras di tengah dunia yang semakin kehilangan nuraninya.

Kami bukan korban yang harus diam, kami adalah manusia yang memiliki hak untuk hidup aman, bermartabat, dan dihargai. Mari bersama kita lawan budaya bisu yang membuat kekerasan seksual terus merajalela. Mari berdiri, bersatu, dan menyuarakan keberanian untuk melindungi diri kita dan generasi setelah kita.

Karena jika kita tidak saling menjaga dan bersuara, maka tak akan ada yang benar-benar melindungi kita.