Senin,
Menjelang pemilu
Anak-anak selesai main bola di tanah lapang,
Sorak mereka polos.
Ibu-ibu antri sembako,
Bapak-bapak ngaso di pos ronda,
Sebatang lisong jatah tiga hari habis malam itu.
Mereka senang.
Satu bungkus satu orang.
“Ini bukan aji mumpung,” kata mereka.
“Ini rezeki dari orang yang tak dikenal.”
Suara lembut, Tipis., Tapi memeluk erat.
Tangan berjabat. Anak yatim dirangkul. Kepalanya diusap.
Kotak karton putih pindah tangan.
Ia mondar-mandir. Tak capek.
Namanya juga usaha
bicara kepada semua orang.
Janji. Harapan.
Sinar bagi yang terpinggirkan.
Lalu selesai pemilu.
Ia tuli.
Gapura berdiri megah di rumah dinasnya.
Anggaran makan mereka lebih besar
dari dana untuk orang-orang itu.
Suara lembut hilang.
Dulu satu suaranya meluluhkan semua orang.
Sekarang jutaan orang menagih.
Ucapan itu tak luluh.
ah sial. Memang begitu, mereka selalu kambuh saat menjadi pemenang







