oleh

Titik Balik Manusia

Manusia Tidak Pernah Benar-Benar Mandiri (dan Itu Tidak Masalah)

Kita sering membanggakan manusia sebagai makhluk paling cerdas di muka bumi: otaknya besar, pikirannya rumit, teknologinya ke mana-mana. Tapi ada satu hal yang sering kita lupa atau sengaja kita tutupi, manusia itu sejak lahir tidak pernah benar-benar mandiri, bahkan bisa dibilang hidup manusia justru dimulai dari ketergantungan total. Coba bandingkan dengan anak kuda atau simpanse, sejak lahir mereka sudah bisa berdiri, berjalan, bahkan mencari makan sendiri. Hidup mereka memang keras,  tapi jelas bertahan atau mati. Manusia tidak demikian, bayi manusia bahkan tidak bisa bertahan satu hari tanpa bantuan orang lain. Ia harus disuapi, digendong, diajak bicara, dan dirawat dengan penuh perhatian. Jika tidak,  ia bukan cuma gagal berkembang tapi ia bisa mati. Di titik ini saya justru curiga jangan-jangan ketergantungan bukan kelemahan manusia melainkan keunggulannya.

Manusia memang “lemah” secara fisik saat lahir, tetapi justru karena itu ia diberi waktu belajar yang panjang. Waktu untuk mengenal bahasa, memahami emosi, meraba dunia dengan rasa ingin tahu. Semua itu tidak mungkin terjadi tanpa lingkungan. Tanpa ayah, ibu, keluarga, dan orang-orang di sekitarnya. Otak manusia tidak akan berkembang sebagaimana mestinya.

Aku Ingin~Minggu Bersama Sastra

Ada banyak cerita dan juga riset tentang bayi yang tumbuh tanpa interaksi sosial. Hasilnya nyaris selalu sama: perkembangan terganggu, bahkan berujung pada kematian. Ini terdengar ekstrem tapi justru di situlah letak kejujurannya, Menjadi manusia ternyata bukan cuma soal lahir sebagai Homo Sapiens, tetapi soal dibentuk oleh relasi sosial yang terus-menerus. Di sinilah konsep plastisitas otak manusia menjadi penting. Otak kita tidak kaku, Ia lentur, bisa dibentuk, bisa diarahkan. Manusia belajar dari lingkungan lalu mengubah lingkungannya kembali. Sebuah hubungan timbal balik yang rumit tapi efektif. Evolusi manusia tidak hanya terjadi lewat mutasi biologis tetapi juga lewat perubahan cara hidup, pola asuh, dan sistem sosial. Keluarga suka tidak suka adalah laboratorium pertama manusia. Di sanalah anak belajar patuh sekaligus belajar membangkang. Orang tua memberi aturan, tapi juga idealnya memberi ruang. Relasi ini menciptakan ketegangan yang sehat antara ketergantungan dan kebebasan. Anak tidak dilepas begitu saja, tapi juga tidak diikat mati-matian.

Ketika manusia tumbuh dan masuk ke masyarakat yang lebih luas pola ini tidak hilang, Ia berubah bentuk. Ketergantungan pada orang tua bergeser menjadi ketergantungan pada norma, hukum, dan kesepakatan sosial. Kita menyerahkan sebagian kebebasan pribadi demi hidup bersama. Rousseau menyebutnya kontrak sosial. Kita mungkin menyebutnya “ya mau gimana lagi.”

Aku Tau, Hanya Aku yang Tau | Puisi Dandi Firman Dani

Menariknya di tengah semua wacana kemandirian dan kebebasan individu hari ini, manusia modern justru semakin terikat. Bukan hanya pada keluarga dan masyarakat, tetapi juga pada sistem yang lebih besar di bidang ekonomi, teknologi, dan budaya. Kita bergantung pada listrik, internet, algoritma, dan validasi sosial. Ironisnya, semua itu sering kita bungkus dengan kata “kemajuan”.

Pada akhirnya, saya sampai pada kesimpulan yang mungkin tidak terlalu heroik, manusia tidak pernah jauh dari ketergantungan terhadap lingkungannya Dari lahir sampai mati, manusia selalu membutuhkan yang lain, orang lain, budaya, dan sistem sosial. Dan mungkin, tidak ada yang salah dengan itu.

Justru dari ketergantungan itulah manusia belajar menjadi manusia. Dari situlah peradaban dibangun, ritual diciptakan, dan makna diwariskan turun-temurun. Kemandirian total mungkin terdengar keren, tapi dalam praktiknya, ia hanya mitos. Manusia hidup bukan karena berdiri sendiri, melainkan karena saling menopang meski sering kali kita lupa mengakuinya.

###

Ditulis oleh Muhamad Syis.

Editor: Abdul Azis