oleh

Sorak Sorai.. | Puisi Muhamad Syis ~Minggu Bersama Sastra

—————-

Manisku.

biarkan aku duduk diam

dan meminjam tidur yang lelap

di sela mimpi-mimpi kita

yang terpaksa berhenti sebelum sempat bercerita.

 

Aku ingin beristirahat di sana

di tempat harga diriku tidak perlu dibela.

bahkan setelah ayahmu menyebut namaku

dengan kata yang ia pikir bisa menjatuhkanku.

 

Pagi itu pukul tujuh,

Matahari masih ragu naik

seperti tahu ada hal yang sebaiknya tidak ia saksikan.

 

Dadaku sesak

bukan oleh takut

tapi oleh sesuatu yang sudah lama kutahu akan datang,

 

Ayahmu berdiri di hadapanku

dan meminta kejelasan

dengan suara datar,

suara orang yang yakin dunia berpihak padanya.

 

Aku menjawab pelan:

“Lihatlah, Tuan.

Bahkan di tanah yang paling kering,

bulan tetap datang tanpa diminta

Waktu berjalan tanpa bertanya

siapa yang layak bertahan

Jika badai hari ini menahan diri

itu bukan karena aku lemah.

melainkan karena belum waktunya,

mimpi-mimpiku tidak mati.

Ia hanya diam

mengumpulkan suara

hingga kelak tidak perlu lagi berteriak

untuk didengar.”