—————-
Manisku.
biarkan aku duduk diam
dan meminjam tidur yang lelap
di sela mimpi-mimpi kita
yang terpaksa berhenti sebelum sempat bercerita.
Aku ingin beristirahat di sana
di tempat harga diriku tidak perlu dibela.
bahkan setelah ayahmu menyebut namaku
dengan kata yang ia pikir bisa menjatuhkanku.
Pagi itu pukul tujuh,
Matahari masih ragu naik
seperti tahu ada hal yang sebaiknya tidak ia saksikan.
Dadaku sesak
bukan oleh takut
tapi oleh sesuatu yang sudah lama kutahu akan datang,
Ayahmu berdiri di hadapanku
dan meminta kejelasan
dengan suara datar,
suara orang yang yakin dunia berpihak padanya.
Aku menjawab pelan:
“Lihatlah, Tuan.
Bahkan di tanah yang paling kering,
bulan tetap datang tanpa diminta
Waktu berjalan tanpa bertanya
siapa yang layak bertahan
Jika badai hari ini menahan diri
itu bukan karena aku lemah.
melainkan karena belum waktunya,
mimpi-mimpiku tidak mati.
Ia hanya diam
mengumpulkan suara
hingga kelak tidak perlu lagi berteriak
untuk didengar.”







