Primnas ̶ Masturbasi bukan perkara masalah sex saja, masturbasi bisa lebih bahaya karena tidak
bersembunyi di tempat aman. Mereka berkeliaran di jalanan, pendidikan, organisasi, sosial, bahkan masyarakat itu sendiri.
Saya mebedakan dua sudut pandang antara hubungan masyarakat yang struktural dan hubungan sosial yang terstruktur. Pertama, jika sosialnya terstruktur maka di sana ada perjanjian (contract) sosial yang solid, juga saling bahu membahu. Bahkan mengisi kekosongan kekuasaan di pos ronda dengan bermain Kartu Remi juga ngobrol ngalor bahkan ngidul sama sini. Di sini jelas tidak ada siapa yang powerfull. Bahkan tidak ada kelas sosial yang lebih tinggi bahkan lebih rendah, tetapi atas kesadaran penuh untuk mengisi kekosongan sebelum datang ketua RT dan RW atau ketua regu, mereka bermain kartu Remi dan ngobrol. Akhirnya timbul kepuasan otak mereka berejakulasi saat itu juga. Mengeluarkan dopamine, karena sistem limbik otak yang berpengaruh untuk melakukan ritual bermain kartu remi dalam mengisi kekosongan. Kedua, masyarakat yang struktural. Bahkan ini bisa jadi kegagalan sistem yang sudah lama di anggap benar oleh semua orang juga di setujui bersama. Ini menciptakan efek kupu-kupu yang memang luar biasa. Ketika sistem masyarakat dibentuk dalam sistem Hirarkis Feodalis itu mereka akan mengalami masturbasi otak. Seorang jawara dan preman juga senior, mereka aktor di balik masturbasi pemikiran mereka hanya ingin didewakan demi ejakulasi kepuasan mereka sendiri, ini tidak bersembunyi seperti masturbasi kebutuhan pribadi. Tapi memasturbasikan sistem yang berakar dan berlanjut sampai sekarang.
Saat ini juga banyak senioritas, peremanisme, dan jawara ingin dituakan dan didewakan.
Di sini hanya ada dua pilihan: terus berada di lingkungan sosial masyarakat yang komunal
Feodalis Struktural atau Berada di barisan kaum murtad dari lingkungan itu, murtad untuk
melawan kedegilan kasta sosial di masyarakat yang menindas.
Ditulis oleh Muhamad Syis.
###







