oleh

Rindu yang Kembali kepada Pemiliknya — Minggu Bersama Sastra

 

IKRARI

Oleh Muhamad Syis.

 

Puan.

bolehkah aku duduk di sisimu

di antara rerumputan

yang pelan-pelan menenggelamkan kita

ke dalam mimpi

yang pernah kita susun rapi,

lalu biarkan kita lupa

cara untuk pulang

 

Ketika kita mencoba berbicara tentang cinta

aku justru kehilangan bentuknya.

Segalanya terasa terlalu berat

untuk disusun menjadi kata hari ini.

Separuh nafasku sesak,

bukan karena ingin menyerah,

melainkan karena bertahan pun

meminta tenaga yang sama besarnya.

 

Namun jangan salah menafsirkan diamku.

Ada harapan kecil

yang tetap kubiarkan hidup

tentang perasaan

yang dalamnya tak sempat dihitung jarak,

yang cepatnya

bahkan waktu tak sanggup mengejar.

 

Aku menyelipkan namamu

di sela doa-doa yang tak bersuara,

setiap kali purnama datang

dan sinarnya jatuh

pada tubuh yang kering oleh hari-hari.

Di sanalah aku belajar

bahwa cahaya tak selalu menghangatkan,

kadang ia hanya mengingatkan

bahwa gelap pernah ada.

 

Jika kelak senja kembali merunduk,

biarlah kita tenggelam

di bawah jingga langit

tanpa saling memiliki.

Cukup saling menjaga jarak

agar perasaan

tetap bisa bernapas.

 

 

Dia Cibaliung

Oleh Yana Suryana.

 

Dia Cibaliung

Berlari ke pangkuan tuan

Terlelap dalam pelukan puan

Tergeletak di telapak kaki penguasa

Diam, membisu, tak berdaya.

 

Mata membelalak

Melihat dengan kesadaran palsu

 

Cibaliung terlalu percaya

Pada semua hegemoni budaya

 

Cibaliung sudah terperangkap

Dalam sudut pandang yang mengkilap

 

Dia Cibaliung

Menelan mentah doktrin agama

Sabar, tawakal pada kemiskinan yang terstruktur nyata.

 

Dia Cibaliung

Tergiur pertunjukan media

Menyembah idola yang hanya bisa memperkaya dirinya.

 

Yogyakarta, 23 Januari 2026.

 

 

Rindu yang Kembali kepada Pemiliknya

Oleh Gie

 

Aku menunggu makhluk

hingga rindu pada-Mu menjelma kabut,

menyembunyikan wajah Sang Pemilik segala rasa.

 

Aku tersesat,

bukan karena gelap jalan,

melainkan karena dahiku terlalu lama

lupa bercumbu dengan bumi-Mu.

Cinta yang kupeluk ternyata memalingkan,

membuatku jauh dari sunyi yang Kau ajarkan.

 

Maka jika aku masih Kau inginkan pulang—patahkan rinduku pada selain Engkau.

 

Kembalikan aku, ya Rabb,

dari cinta yang gaduh

menuju sujud yang menenangkan,

tempat jiwaku akhirnya tahu

ke mana ia harus berlutut

dan kepada siapa ia seharusnya rindu.

 

 

Yogyakarta 2026

 

 

TETAPI BUKAN SOAL ERIKA

Oleh Muhamad Syis.

 

Kepada Erika Perempuan ku, untuk tidak mencari tahu tentang bagaimana dirimu saat ini adalah sebuah penghianatan terhadap janji ku terhadap ayah mu saat ketika angin berhembus dari timur lalu memecah hening di antara kita semua.

 

Di saat itu aku melihat anak-anak keturunan Polandia berlari ke arah selatan menuju lorong-lorong sempit juga ramai aku terpaku dan terpana bahkan mungkin terdistraksi.

 

Pelik untuk ku berbicara tentang dirimu kepada dunia ku yang rasanya untuk bernafas saja sedikit pengap karena parit-parit sempit menghimpit untuk ku agar tidak memiliki kebebasan, hanya ada dua pilihan maju melawan atau mati tertembak di sini atau bahkan ledakan invasi German ke Polandia saja belum bisa menandingi ini. Tidak seperti nya cerita kita sulit untuk di tafsir jika hanya membaca satu sepersekian bab

 

Terlalu rumit untuk ku tetapi sulit bagiku jika semua ini memang benar aku akui cintaku suda habis untuk saat ini