oleh

Jogja, Kota yang Tak Pernah Benar-Benar Tidur~ Minggu Bersama Sastra

Siapa yang Peduli dengan Bumi

Untuk Ibu
oleh: Yana Suryana

Aku lupa,Ibu
besok pagi pemakaman Bumi.
Matahari datang terlambat,
Bulan tersesat dalam rotasi Mars,
Saturnus terlilit cincin,
sementara Jupiter menjelma motor
di jalan-jalan penuh asap.

Siapa yang mau bersama Bumi, Ibu?
Udara telah penuh karbondioksida,
air tercemar limbah nikel,
bebatuan terpapar radioaktif,
dan tanah—gersang,
tak lagi menumbuhkan apa pun.

Siapa yang akan menyalatkan Bumi, Ibu?
Para santri sedang berdemo,
ormas Islam sibuk berebut tambang,
yang lain pasrah— tawakal di bawah penghisapan panjang.

Siapa yang akan menguburkan Bumi, Ibu?
Petani sibuk membayar hutang,

nelayan menantang badai demi perut anaknya,
sementara pejabat menari
di atas keuntungan dari kematian bumi.

Dan siapa yang datang ke pemakaman Bumi, Ibu?
Aku pun masih bingung dengan masa depan—
takut tak punya tanah,
takut tanah pemakaman bumi
adalah sisa tanah untukku.
Aku takut, Ibu.

Lalu,
siapa yang peduli dengan Bumi?
Ibu…
mungkin hanya Ibu—yang masih peduli pada aku.

Yogyakarta, 21 Oktober 2025

Perayaan Tepang Taun ke-12 Kumaung di Wilayah Serang

 

Jogja, Kota yang Tak Pernah Benar-Benar Tidur

Oleh: Egi suhendar

Di antara kabut dan bau oli,
ada doa-doa yang disembunyikan di balik kantong baju lusuh, ada harapan yang dipinjam dari rokok terakhir
sebelum matahari menagih tenaga mereka lagi.

Di kota ini, yang disebut istimewa,
istimewanya hanya berlaku bagi yang punya cukup uanguntuk membeli waktu, udara, dan kesempatan.Sisanya— hanya nama-nama tanpa masa depan
yang terus menua di bawah jam lembur pabrik dan lampu neon kontrakan.

Ada lelaki yang tangannya penuh kapalan,mengangkat batu, semen, dan janji palsu pemerintah. Ia tidak tahu apa itu “UMR”, yang ia tahu: beras hari ini cukup atau tidak.

Dan di malam yang sesak,
mereka duduk di bawah jembatan,
menonton lampu kota berkelip seperti nasib yang diundi.
Sementara di ruang rapat,
orang-orang berdasi sibuk menimbang nasib tanpa pernah menatap wajah yang mereka timbang.

Jogja, kota yang katanya penuh cinta—
tapi buruh-buruhmu mencintai dengan cara paling sunyi: dengan tangan yang tidak berhenti bekerja, dengan dada yang menahan lapar tanpa kehilangan iman.

Mereka tidak menulis puisi,
tapi setiap langkah mereka adalah sajak yang menuntut keadilan.

Dan setiap tetes keringat yang jatuh ke tanah ini adalah bentuk paling jujur dari kata: hidup.

 

Tidak Perlu 364 Ha, Cukup Seluas Kuburan

Tuan sendiri

Oleh: Yana Suryana

Dua biji hujan
Tiga buah tangan dewa
Sehelai daun telinga
Sepasang mata kaki

delima,
kurma, dan zaitun
terlalu santun menyentuh lidah

kecubung,
anggur, dan marula
gusar menenangkan jiwa

esok sudah panen raya
halal – haram dalam kertas
moral menjelma amoral
norma selalu kehilangan nama

Tuan sendiri ingin Bersama
Nona malam telah menemukan pasangannya
Aral menentang payau
Lembayung jatuh hingga terhuyung

Tuan sendiri ingin Bersama
Perempuan empat musim sudah tak Bernama
Huru-hara di kota tua

Bisik-bisik dalam telinga tetangga

Tuan sendiri ingin Bersama
Meneguk anggur dan nira

Tuan sendiri ingin Bersama
Mencuci mulut dengan setandan kurma

Tuan sendiri ingin Bersama
Tuan lupa dia tidak punya siapa-siapa

“si” hilang
Tuan tak punya apa-apa

Yogyakarta, 2025

 

Kronologi Perampasan Tanah Masyarakat Desa Rancapinang oleh TNI Angkatan Darat (TNI AD)

Setelah Segalanya Tenang
Oleh: Egi suhendar

Empat tahun bukan waktu yang panjang bagi sejarah,namun cukup bagi seorang jiwa untuk memahami arti memiliki dan kehilangan dalam satu tarikan napas.
Pernah kurasa bahwa kasih adalah tujuan,hingga akhirnya kusadari — kasih hanyalah jalan bagi batin untuk mengenali dirinya sendiri.

“Apakah penyesalan masih tinggal?”
tanya suara dari dalam kesunyian,
tubuh lelah, namun pikirannya masih berputar seperti jarum jam yang enggan berhenti.
“Tidak,” jawab batin, “hanya sedikit kecewa,sebab semesta rupanya pandai menukar harapan dengan kenyataan.”
Perempuan itu—yang kusebut Empat Musim—pernah mengajar kelembutan tanpa menjanjikan apa pun.
Ia menjauh dengan tenang, namun di situlah pelajaran hadir:
bahwa kehilangan pun bisa seanggun pertemuan,dan perih tidak selalu lawan bagi kebijaksanaan.

“Apakah rasa membuatmu bodoh?”
bisik nurani yang ingin tahu jawabannya.
“Mungkin,” sahut jiwa lirih,
“namun bukankah kebodohan terkadang hanyalah keberanian
untuk terus merasa, walau tahu segalanya tak akan berbalas?”

Kini yang tersisa hanyalah kesadaran yang luruh:melupakan bukan berarti menghapus,melainkan menerima bahwa sesuatu tak lagi harus dimiliki agar tetap dapat dikenang dengan utuh.
Langkah pun berjalan pelan di antara sisa hujan,membiarkan yang pernah hangatmenjadi bagian dari kebijaksanaan yang sederhana:
bahwa rasa yang tulus tak selalu perlu dimenangkan.

Yogyakarta 2025