oleh

Bagaimana Jika The Beatles Tidak Pernah Ada? Sebuah Efek Domino Katarsis pasca Perang Dunia II

Primnas.com- Bagaimana kalau The Beatles tidak pernah ada?

Bagaimana kalau Yoko Ono, Paul McCartney, atau John Lennon bahkan tidak pernah lahir?

Tidak pernah ada klip paling fenomenal seperti Imagine yang bercerita tentang membayangkan kebebasan tanpa batas. Tidak pernah ada Hey Jude lagu yang berangkat dari cerita anak John Lennon, Julian yang sedang berantakan secara emosional, lalu dirintis menjadi lagu oleh Paul McCartney dan akhirnya meledak secara komersial.

Tidak Perlu 364 Ha, Cukup Seluas Kuburan

Mungkin di titik itu, anak muda pada masanya tidak pernah benar-benar belajar bahwa memainkan alat musik bisa jadi bagian dari hidup. Bahwa menjadi remaja bukan cuma fase nunggu dewasa, tapi gaya hidup. Cara berpikir, bahkan cara merasa. Kalau bicara remaja, kita bisa tarik ke pasca Perang Dunia II. Dulu bahkan tidak ada istilah “remaja” sebagai masa transisi. Hidup cuma dibagi dua: anak kecil dan orang dewasa, Titik(.) Tidak ada ruang buat bingung, tidak ada fase galau, tidak ada legitimasi untuk merasa setengah-setengah. Baru setelah budaya pop masuk salah satunya lewat remaja, mulai diakuilah remaja sebagai identitas sendiri.

The Beatles bukan sekadar band. Mereka jadi pintu masuk, mereka ngajarin bahwa emosi tidak harus dipendam atau dilampiaskan secara brutal. Imagine tidak berteriak. Ia hanya mengajak membayangkan dunia tanpa batas-batas yang biasa kita anggap mutlak. Kebebasan yang lembut, hampir sopan, tapi justru berbahaya karena ia bekerja di dalam kepala.  Sementara Hey Jude menunjukkan bahwa kesedihan yang sangat privat bisa dibagi ke publik tanpa kehilangan maknanya. Dari sini, anak muda belajar bahwa merasa itu boleh.

Aku Ingin~Minggu Bersama Sastra

Dari situ muncul band-band kecil. Gitar di kamar, nongkrong sambil ngomongin hidup. Musik jadi ruang aman, bukan buat rusuh, tapi buat bernapas. Sekarang bayangkan kalau pintu itu tidak pernah ada.

Kalau The Beatles tidak pernah lahir. besar kemungkinan budaya Barat tetap masuk, tapi jalurnya berbeda. Yang masuk bukan empati atau imajinasi tapi bentuk luarnya saja. Teknologi, industri, aturan Musik pop dan rock berkembang lebih kaku.

Ekspresi emosi tidak punya jalur lembut, anak muda mungkin langsung lompat ke bentuk pelampiasan yang lebih keras tanpa fase katarsis pelan-pelan. Keras bukan sebagai pilihan estetika, tapi sebagai satu-satunya bahasa yang tersedia.

Jogja, Kota yang Tak Pernah Benar-Benar Tidur~ Minggu Bersama Sastra

Dampaknya terasa ke generasi setelahnya. Queen, misalnya. Tidak lahir dari ruang kosong, Keberanian mereka bermain dengan emosi, identitas, dan kebebasan artistik berdiri di atas fondasi yang lebih dulu dibuka The Beatles. Tanpa fondasi itu musik bisa jadi cuma bising keras tanpa refleksi, ramai tanpa makna.

Ketika semua ini kita tarik ke Indonesia gambarnya jadi makin aneh. Westernisasi tetap masuk tapi bentuknya setengah matang. Teknologi diterima, tapi ekspresi dijagain ketat.  Musik metal dicap haram, satanik, pemuja setan, Rambut gondrong dicurigai, minum wine dianggap dosa besar, karena identik dengan Barat. Semua yang datang dari luar diposisikan sebagai ancaman moral.

Ironisnya di saat yang sama mabuk tuak di hajatan dianggap wajar, joget sambil nyawer biduan di panggung terbuka dibilang budaya.  Alkohol tetap alkohol tapi kalau lokal jadi sah secara sosial.

Di sini kelihatan jelas yang dijaga bukan moral, tapi identitas. Bukan etika, tapi selera yang dikontrol.

Tanpa The Beatles, tanpa fase musik yang ngajarin ekspresi emosi secara lembut. Konservatisme di Indonesia mungkin makin nyaman, Barat tetap ada, tapi versi yang  “aman” garis miring “westernisasi syariah”. Modern secara alat, konservatif secara rasa.  Bebas di permukaan, dikunci di dalam. Anak muda boleh pakai gadget, tapi perasaannya diawasi boleh modern, asal tidak mempertanyakan.

Cibaliung katanya | Puisi Yana Suryana ~~Minggu Bersama Sastra

Akhirnya kebebasan bukan lagi soal membayangkan dunia yang berbeda. Tapi soal menyesuaikan diri supaya kelihatan benar. Musik bukan ruang refleksi, tapi sekadar hiburan atau ancaman tergantung siapa yang memegang kuasa.

Mungkin dunia tanpa The Beatles akan terlihat lebih tertib, lebih rapi, lebih mudah diatur, tapi juga lebih kering secara emosional. Dan masyarakat yang kering emosinya sering tampak sopan di permukaan. Tapi menyimpan ledakan di dalam.

…….

###

Ditulis oleh: Muhamad Syis.