Hanya Bikin Anu
Oleh: Abdul Azis
Sudahlah bung
Taman ini telah kehilangan cinta
Kehilangan bunga-bunga
Kehilangan asa dan nuansa
Anda boleh pergi saja
Mencari titik apresiasi
Mencari nilai yang spesial
Di sini hanya badut jongkok tak berkokok
Kelinci tak lagi berlari-lari
Mereka dipanggang barisan sakit hati
Ditahan asupan makannya
Wortel dan sayuran dinaikkan harganya
Para bedebah naik tahta
Merubah rumput dengan hutang
Memperbaiki udara dengan buzzer
Bikin sesak
Bikin kaki berat melangkah
Bikin aku dan kamu enggak jadi menikah
Keserakahan yang Menyamar sebagai Takdir
oleh: Egi suhendar
Berhentilah menuduh takdir
atas banjir yang merangsek ke ruang tamu,atas tanah yang runtuh menelan kampung,atas udara yang mengiris paru-paru dengan partikelnya yang tak lagi mengenal batas moral.
Sebab dalam epistemologi bencana,
tak ada ruang bagi mitos penyangkal tanggung jawab.
Semua telah dicatat rapi
dalam grafik deforestasi,dalam kurva emisi yang menukik naik,dalam laporan yang selalu kita abaikan
demi pembangunan yang katanya
“demi kemajuan peradaban”.
Ironis.
Kita menyalahkan hujan,
padahal manusialah yang menghapus hutan dari peta,seperti menghapus koreksi pada makalah
yang tak ingin diakui salah.
Kita menyalahkan gunung,
padahal manusialah yang menggali dasar keseimbangannya
demi profit triwulanan.
Kita menyalahkan alam,
padahal manusialah yang memperlakukannya
seperti mesin industri tanpa batas umur.
Alam tidak pendendam—
ia hanya menerapkan hukum fisika
secara konsisten.
Ia tidak mengutuk,
ia hanya merespons.
Namun kita—
spesies dengan gelar akademik
dan teknologi yang memetakan galaksi—
masih mencari kambing hitam metafisik
untuk menutupi statistik keserakahan kita sendiri.
Berhentilah.
Banjir bukan karma kosmik.
Ia adalah tesis panjang
tentang kegagalan etika ekologis
yang kita tanda tangani bersama
tanpa pernah membacanya.
Jika masih ingin tinggal di bumi
tanpa meminjamkan masa depan
pada bencana generasi berikutnya,
maka saatnya berhenti pasrah:
karena pasrah yang tidak disertai tanggung jawab
bukanlah kebijaksanaan—
itu hanya bentuk lain dari pengecut intelektual.
Yogyakarta 24-November-2025
Jogja, Kota yang Tak Pernah Benar-Benar Tidur~ Kumpulan Sabda Hari Minggu Jilid 1
Jogja Film Academy Short Film Festival (JOFAFEST) 5: “Tumbuh” Bersama Sinema Muda Indonesia
Aku Ingin
Oleh: Yana suryana
12 bulan
365 hari
Tahun kabisat
Tahun gajah
Kata ibu :
Apa cita-citamu nak?
Aku ingin menjadi bunglon
Berenang ditengah samudra
Berbincang bersama paus
Dan berubah menjadi biru
Aku ingin menjadi kelalawar
Yang hidup di siang hari
Dan tidur di tengah kasur
Aku ingin ke Rangkasbitung
Pergi ke museum Multatuli
Berjalan ke ruang tengah
Lalu teriak “Huahhhhh geus Cageur”.
Aku ingin
Bunglon tidak langsung mati karena melawan teori Darwin
Kelalawar tidak buru buru bangun dari mimpi
Dan Wahyu lupa menuju sadar.
Yogyakarta, 25 November 2025
Kronologi Perampasan Tanah Masyarakat Desa Rancapinang oleh TNI Angkatan Darat (TNI AD)







